Tali Kasih
"barang siapa yang memberikan
ilmu/pengetahuan (baik) kepada orang lain, maka Allah akan memberikan
pengetahuan yang belum ia ketahui"
Alhamdulillah.. sesempit apapun waktu yang
tersisa karna tersita oleh tugas-tugas lain, insaallah akan terus semangat untuk
selalu berbagi..😇
oke, moggo scroll down..
Tali
Kasih
Lima hari setelah meninggalnyaa ibunda
tercinta, Muhammad kecil diasuh oleh sang kakek, ‘Abdul Muthollib. Mulai hari
itu kecintaan ‘Abdul Muthollib kepada Abdullah segera tumpah, tercurahkan
seluruhnya pada cucu mungilnya ini. Kini usianya telah mencapai 100 tahun
lebih. Di usianya yang masih udzur itu, pengaruh kepemimpinan beliau di bumi
Mekah kian berwibawa. Seperti sebelum merenovasi sumur Zamzam, mertua Aminah
ini sangat gemar berada di sisi Ka’bah. Untuk itulah keluarga beliau sengaja
mempersiapkan sebuah permadani yang dihampar dibawah naungan Ka’bah.
Karena begitu hormatnya terhadap ‘Abdul
Muthollib, semenjak tempat itu disediakan, tidak ada satu pun yang berani
menempatinya baik keluarga ataupun warga Mekah. Tetapi lain halnya dengan cucu
kecilnya yang bernama Muhammad ini. Beliau sering tiba-tiba duduk dengan sang
kakek yang tengah menikmati suasana kota. Jika paman-pamannya hendak
membopongnya untuk dipindahkan ke tempat lain, maka sang kakek segera berkata,
“Biarkanlah dia bersamaku, sungguh ia memiliki
keistimewaan tersendiri.”
Tentu paman-pamannya tidak dapat membantah. Dan
setiap kali cucunya berada disisinya, ‘Abdul Muthollib tak henti-hentinya
mengelus kepala dan punggungnya.
Baru dua tahun merasakan kasih sayang yang
melimpah dari sang kakek, Nabi Muhammad Saw. harus kembali merasakan duka.
Sejarah mencatat, ketika usia ‘Abdul Muthollib mencapai 120 tahun, dan menurut
yang lain 140 tahun, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Tumpahlah segala
kesedihan keluarga besar ‘Abdul Muthollib, terutama Nabi Muhammad Saw. yang
kini harus ditinggalkan kakeknya. Usianya baru 8 tahun, namun pengalaman pahit
begitu kerap menghampirinya. Lahir tanpa punya kesempatan beradu tatapan dengan
ayahandanya, disusul ibunya wafat tepat dipangkuannya setelah pulang ziarah
dari makam ayahandanya.
Sepeninggal ‘Abdul Muthollib, Nabi Muhammad
Saw. kini diasuh oleh pamannya, Abu Tholib. Sesuai amanat orang tuanya, dengan
begitu tulus, Abu Tholib juga sangat menyayangi Nabi Muhammad Saw.. Sejak saat
itu, berbagai upaya beliau curahkan untuk membahagiakan kemenakannya yang
selalu didera kesedihan sejak masih dalam kandungan. Bahkan karena begitu
sayangnya, beliau tidak akan dapat memejamkan mata sebelum putra saudaranya itu
berada di sisinya.
Sebelum Nabi Muhammad Saw. bergabung dalam
keluarga Abu Tholib, bisa di pastikan ketika mereka makan tidak ada satupun
yang merasa kenyang. Kini setelah putra ‘Abdullah itu hadir di tengah-tengah
keluarganya, semua itu hampir tidak pernah terjadi. Mereka yakin semua ini di
karenakan keberkahan yang di bawa oleh Nabi Muhammad Saw. karena itulah,
seluruh keluarga Abu Tholib tidak pernah protes ketika beliau berkata,
“Jangan ada yang makan sebelum Muhammad
datang!”
ketika beliau datang, barulah dimulai
makan bersama.
Meskipun Nabi Muhammad Saw. mendapatkan
perlakuan istimewa dari anak-anak dan istri pamannya, namun hal ini tidak
membuat beliau menjadi anak yang pongah, beliau tetap santun, bahkan
kesantunannya melebihi anak-anak Abu Tholib. Nabi Muhammad Saw. tetap menjaga
sikapnya yang lembut, dan hal ini di kemudian hari diceritakan oleh Ummu Aiman.
Wanita yang dulunya adalah budak ibunda Nabi ini pernah berkata,
“putra Aminah itu tidak pernah melakukan
kenakalan-kenakalan yang umumnya dilakukan teman-teman sebayanya.”
Komentar
Posting Komentar