Syiria 1 (Pendeta Bahiro)



Syiria 1 (Pendeta Bahiro)

selama beberapa tahun ikut keluarga Abu Tholib, Nabi Muhammad Saw. sering menyaksikan pamannya melakukan perjalanan dagang bersama beberapa orang Quraisy. Pagi itu, ketika pamannya sedang mempersiapkan berbagai perbekalan, Nabi Muhammad Saw. berdiri di ambang pintu. Matanya sembab dan air matanya menetes perlahan membasahi pipinya yang putih. Penampilannya yang selalu rapi, bersih dan begitu tenangmemang seolah mampu memendam berbagai kenangan pahit yang dialaminya. Namun pagi itu, entah mengapa Nabi Muhammad Saw. tiba-tiba mencucurkan air matanya. Melihat hal itu, Abu Tholib segera menghentikan aktifitasnya. Hati kecilnya tak kuasa melihat tetesan  air mata yatim piatu yang berdiri mematung di ambang pintu rumahnya. Buru-buru ia dekati kemenakannya itu. Didekapnya dengan lembut tubuh Nabi Muhammad Saw. yang mulai menampakkan kegagahannya. Dengan begitu haru Nabi Muhammad Saw. membenamkan tubuhnya kedalam pelukan pamannya. Bagi Nabi Muhammad Saw., Abu Tholib lebih dari sekedar paman. Pamannya inilah yang menggantikan curahan kasih sayang ‘Abdullah, ayahandanya.
Pelan-pelan Abu Tholib melepaskan pelukannya. Selama ini ia tidak pernah berniat mengajak Nabi Muhammad Saw. melakukan perjalanan jauh mengingat beratnya medan yang harus ditempuh. Kini setelah menyaksikan air mata kemenakannya tiba-tiba terbesit keinginan untuk mengajaknya. Sambil memegang kedua pundak Nabi Muhammad Saw. dan menatap dalam-dalam mata sembabnya, Abu Tholib berbisik lirih:
“Demi Allah, aku akan mengajaknya. Aku tidak akan pernah meninggalkannya sampai kapan pum.”
Inilah hadiah istimewa dari pamannya bagi Nabi Muhammad Saw. diusianya yang ke-9. Satu versi mengatakan saat itu umur beliau berumur 12 tahun. Rombongan bertolak dari mekahdengan mengusung berbagai barang dagangan. Tatkala tiba di padang pasir yang luas, unta-unta mereka nampak berderet seperti berjalan diatas pematang sawah. Telapak kaki karavan dagang ini menciptakan sebuah garis panjang, seperti seekor ular tak berkepala. Padang pasir di depan mereka nampak luas, berwarna kekuning-kuningan menghampar seperti karpet tak bertepi. Jauh didepan sana ujungnya seolah bersatu dengan kaki langit yang menghunjam ke bumi. Memberikan kesan seolah pedagang-pedagang Quraisy ini sedang berjalan didalam bola raksasa yang dibelah dua. Panasnya gurun pasir yang dipanggang mentari mencipta fatamorgana, riap-riap seperti segerombolan penari sedang beraksi.
Seperti biasa, sebelum memasuki pasa-pasar Syiria mereka akan mempersiapkan diri di daerah Bushro.di sinilah para musafir biasa melepas penat setelah bertarung hebat dengan panasnya padang pasir. Dan tidak jauh dari tempat istirahat itu berdiri sebuah gereja yang dihuni oleh seorang pendeta dari masa ke masa.ketika pendeta lama meninggal, maka dilanjutkan oleh pendeta lainnya. Pendeta itu akan mewarisi segala hal yang ada di dalam Gereja. Baik kitab Injil atau kitab-kitab kuno yang berisi ramalan tentang jazirah Arab berhak untuk dipelajarinya. Kini ketika Nabi Muhammad Saw. ikut rombongan pamannya, gereja itu dihuni oleh seorang penghuni bernama Bahiro.
Ketika rombongan dari Mekah mendekati tempat tersebut, tanpa mereka sadari sepasang mata Bahiro menatap tajam dari dalam Gereja. Ia begitu tertegun dengan pemandangan yang terlihat diluar Gerejanya. Dia sudah terlau sering melihat rombongan Quraisy melintas di depan Gerejanya namun kali ini benar-benar lain. Segumpal awan tampak selalu memayungi rombongan itu. Bahkan saat berteduh di bawah pohon maka dedahanannya menjuntai meneduhi mereka. Perhatianya terpaku pada rombongan yang tengah beristirahat itu. Pikirannya langsung teringat tentang sebuah janji di kitab-kitab kuno yang dipelajarinya. Di sana, dengan sedikit samar diterangkan bahwa akan datangnya Nabi baru. Nabi yang sangat ditunggu-tunggu oleh kaum Yahudi atau Nasrani. Mungkinkah Nabi yandijanjikan itu akan akhirnya datang juga pada zaman hidupnya?
Bahiro mencoba mendekati dan mengamati rombongan dagang Quraisy itu. Ketika telah berada di dekat rombongan, Bahiro mulai menatap mereka satu persatu. Tak satu pun dari rombongan itu yang tahu maksud kedatangan pendeta ini. Tiba-tiba Bahiro kembali ke Gerejanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun tak lama kemudian, ia kembali mendekati rombongan dan berkata pada mereka:
“wahai kaum Quraisy, aku telah menyediakan berbagai makanan untuk menjamu kalian semua. Aku harap kalian sudi datang baik yang tua, muda, merdeka maupun budak.”
“wahai Bahiro. Demi Allah, anda nampak begitu aneh hari ini. Selama ini anda tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya meskipun kami sering melintas disini. Apa yang terjadi pada anda hari ini?” sahut salah satu rombongan.
“Anda benar, tapi kalian adalah tamu-tamu ku dan aku sangat ingin menghormati kalian. Maka datanglah dan nikmati hidangan yang telah aku sediakan.” Jawab Bahiro.
Seluruh rombongan segera berkumpul di tempat yang telah disediakan Bahiro, namun Nabi Muhammad Saw. yang merasa masih terlalu muda dan tidak selayaknya bergabung memilih berteduh di bawah pohon untuk menjaga unta-unta mereka. Begitu semuanya berkumpul, Bahiro segera menyapukan pandanganya. Dengan penuh selidik ia mencari-cari seseorang yang mungkin mempunyai ciri-ciri untuk menjadi Nabi yang dijanjikan. Merasa yang dicarinya tidak tampak, pendeta tua itu berkata halus pada para tamunya,
“Wahai orang-orang Quraisy, jangan sampai di antara kalian ada yang tertinggal untuk menikmati hidanganku.”
“Kami tidak meninggalkan seorangpun kecuali seorang anak yang saat ini berada di belakang sana.” Jawab mereka enteng.
“Janganlah kalian  melakukan hal itu. panggillah kemari, biarlah ia ikutmenikmati hidangan ini.” Sahut Bahiro.
“Demi Latta dan Uzza, tak masalah bagi kami seandainya putra ‘Abdullah itu tidak ikut bersama kami.” Jawab mereka sambil terus melahap hidangan yang ada.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Bahiro berlalu meninggalkan tamu-tamunya menemui Nabi Muhammad Saw.. Diajaknya putra ‘Abdullah itu ke tempat jamuan untuk menikmati hidangan bersama para rombongan. Selama kemenakan Abu Tholib itu menikmati hidangan, pendeta Bahiro tak henti-henti nya menatap beliau. Ia begitu tertegun pada Nabi Muhammad Saw..
Seusai menyantap hidangan, putra Aminah itu beristirahat ditempat yang terpisah dari rombongannya. Bahiro sangat penasaran dengan Nabi Muhammad Saw.. karena ia tak mampu lagi menahan keingintahuannya maka didekatilah cucu ‘Abdul Muthollib itu. Mereka kemudian bercakap-cakap.

“Wahai pemuda, demi Latta dan Uzza, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, jika berkenan menjawabnya aku harap engkau sudi menjawabnya. Namun jika tidak berkenan, hal itu tidak menjadi soal bagiku.” Bahiro memulai percakapan.
Nabi Muhammad Saw. menjawab,
“janganlah engkau menanyakan apapun padaku dengan mengatasnamakan Latta dan Uzza. Demi Allah aku paling tidak suka hal itu.”
Mendengar hal tersebut Bahiro tercengang, ia lantas meralat kata-katanya,
“Demi Allah, aku ingin menanyakan sesuatu padamu hal-hal yang belum aku ketahui.”
Bahiro kemudian menyanyakan berbagai hal yang dianggap nya perlu. Sekali lagi ia dibuat kagum oleh jawaban-jawaban Nabi Muhammad Saw. jawaban-jawaban yang diutarakannya mencitrakan bahwa beliaulah Nabi yang ditunggu-tunggu itu. Setelah semua jawaban itu dijawab sigap oleh Nabi Muhammad Saw., Bahiro lantas mohon izin untuk melihat punggung beliau. Benar saja, ternyata di punggung Nabi terdapat sebuah tanda yang dalam kitab-kitab kuno diterangkan sebagai stempel kenabian.
Betapa gembira hati Bahiro, kini ia benar-benar menemukan Nabi yang dijanjikan. Ia lantas menemui Abu Tholib dan bertanya beberapa hal padanya.
“Apa hubungan anak ini dengan mu?” Tanya Bahiro pada Abu Tholib.
“Ia adalah anakku”  jawab Abu Tholib mencoba menutupi jati diri Nabi Muhammad Saw.
“Tidak mungkin anak ayah ini masih hidup.” Bantah pendeta tua itu.
Abu Tholib kaget dengan pernyataan Bahiro dan akhirnya ia berkata jujur.
“Cepatlah kau ajak pulang anak itu. Lindungi dia dari orang-orang Yahudi. Demi Allah, seandainya orang-orang Yahudi mengetahui hal ini, maka mereka pasti akan menyakitinya. Kemenakanmu ini memiliki keistimewaan yang luar biasa.”
Bahiro mencoba mengingatkan Abu Tholib.
Abu Tholib mendengarkan baik-baik pesan itu. Begitu barang-barang dagangan terjual ia segera mengajak kemenakannya untuk kembali ke Mekah untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembelahan Dada