Wafatnya Ibunda Nabi "Sayyidah Aminah"
Bismillahirrohmanirrohim..
segala puji hanya milik Allah SWT. dan sholawat
semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Baginda Nabi Muhammad Saw..
Ini adalah tulisan yang ketiga, "Wafatnya
Ibunda Nabi (Sayyidah Aminah)."
jujur pertama kali saya baca kisah ini di buku
siroh nabawiyah yang saya miliki, mata saya mengembun seketika dengan air mata
yang hampir menetes 😭 (enggak lagi puitis loh ya😏😁)
beneran ! baca sampek akhir. kalo gk tersentuh, anda luar biasa.. (perlu
muhasabah hati berarti😁🙏)
Wafatnya
Ibunda Nabi "Sayyidah Aminah"
Enam tahun sudah Aminah ditinggal oleh Abdullah
ke haribaan yang Esa. Enam tahun pula Aminah tak pernah mampu memperkenalkan
putranya pada sang suami. kini Nabi Muhammad Saw. telah kembali ke pangkuannya.
Keinginannya untuk memperkenalkan putranya pada sang suami tidak tertahankan
lagi. Istri mana yang tak bahagia jika mampu memberikan hadiah pernikahannya
dengan seorang anak laki-laki yang begitu mirip dengan ayahnya. Tidakkah sang
suami akan selalu melemparkan senyum terhangat setiap kali memandangnya. semua
itu mungkin tidak akan pernah ia dapatkan. Namun menantu Abdul Muthollib ini
yakin suaminya yang berada dibawah pusara makamnya dapat melihat putra mereka berdua.
Tahun itu, ketika Nabi Muhammad Saw. berusia 6
tahun, beliau mengajajak ke Madinah untuk ziarah ke makam ayahnya. Disanalah
sang kakek (Abdul Muthollib) dilahirkan.
Dengan membawa dua ekor unta & ditemani
seorang budak bernama Ummu Aiman, perlahan-lahan mereka bergerak ke utara
bersama rombongan dagang Quraisy menuju syiria.
Sesampainya di Madinah, Aminah memisahkan diri
untuk menemui keluarga & ziarah ke makam suaminya di Nabighoh. Kunjungan
pertama ke Madinah membawa kesan tersendiri bagi Nabi Muhammad Saw. beliau
sangat menikmati pertemuan dengan keluarga barunya yang selama ini belum pernah
ditemuinya.
Kabar hadirnya Nabi terakhir segera menyebar
dari mulut ke mulut menusuk Madinah. Menjadi obrolan baru yang cukup menarik
ditengah kesibukan mereka berdagang & bercocok tanam, terutama bagi
kalangan kaum Yahudi yang memang sangat yakin akan hadirnya Nabi terakhir. Ummu
Aiman, budak setia Aminah yang mendengar berita tersebut menjadi gusar. Ia
khawatir orang-orang Yahudi akan berbuat jahat terhadap putra majikannya itu.
Sebisa mungkin ia merasa harus mengingatkan Aminah yang masih terpekur
dihadapan pusara suaminya.
Ibunda Aminah menanggapi serius usulan Ummu
Aiman. Sebagai seorang ibu tentunya beliau tidak ingin ada hal-hal yang tidak
diinginkan menimpa putra kesayangannya. Akhirnya mereka berpamitan dengan
keluarga di Madinah dengan berat hati.
Perjalanan 400mil dari Madinah itu mereka
tempuh dengan pelan. Mereka tidak berjalan cepat karena Aminah merasa kepayahan
menyusuri padang pasir yang terik. Makin jauh mereka meninggalkan kota
kelahiran Nabi Muhammad Saw. Makin buruk pula kesehatan Aminah. Akhirnya mereka
memutuskan untuk istirahat di daerah Abwa’. Dalam tempat peristirahatan ini
kondisi ibunda Nabi tidak juga membaik namun justru kian memburuk.
Begitu parahnya sakit yang Ia derita, hingga
membuat beliau tak mampu untuk duduk sendiri. Kepalanya senantiasa disandarkan
pada putra semata wayangnya, seolah tak ingin berpisah dengannya. Dalam kondisi
yang begitu kepayahan itu, beliau sempat memberikan wasiat untuk Nabi Muhammad
Saw.
“Semoga Allah SWT. Senantiasa memberkahimu
sejak kecil, wahai putra seseorang yang selamat dari yang Maha Kuas, Maha
memberikan nikmat lalu dia ditebus dengan (100 ekor unta) melalui undian. Jika
apa yang kulihat dalam tidurku benar, niscaya engkaku kelak akan menajadi
utusan Allah, Tuhan yang Maha Mulia & Maha Agung. Engkau akan diutus di
daerah halal dan daerah haram, engkau diutus dengan membawa agama yang
mudah dan agama islam. Allah akan melarangmu beserta kaummu menyembah berhala.”
Nabi Muhammad Saw., mendengarnya dengan seksama
meskipun jiwa kecilnya telah lara melihat kenyataan yang sedang diderita
ibunya. Ibunda yang selama ini mengandung dan memberikan harapan-harapan
ditengah keyatimannya. Ibunda yang telah menanamkan harapan bahwa kelak
Ia akan menjadi orang besar, meskipun semua itu belum mampu dipahaminya. Ibu
yang baru saja memperkenalkan pada ayah dengan duduk di depan pusaranya. Kini
ibunda telah berbaring dipangkuannya dengan kondisi yang amat memprihatinkan.
Beberapa saat setelah mengucapkan wasiat itu,
ibunda Aminah diam tak bersuara. Wajahnya nampak begitu tenang namun hembusan
nafasnya tak lagi terasa.
Diatas pangkuan Rosulullah Saw. inilah Aminah,
menghembuskan nafas terakhir. Meninggalkan Nabi Muhammad Saw. memikul beban
sebagai yatim piatu diusianya yang ke-6. Ummu Aiman perlahan menjelaskan arti
sebuah kematian. Dalam gendongannya, Nabi Muhammad Saw. mulai belajar memahami
arti kepergian orang-orang yang dicintainya.
Inilah kisah meninggalnya Ibunda Nabi Sayyidah
Aminah. Beliau dimakamkan didesa Abwa’, yaitu desa antara Mekah dan Madinah.
jika ada yang ingin ditanyakan seputar artikel
ini bolehlah mengunjungi facebook saya, atau follow IG saya juga boleh😇
Komentar
Posting Komentar