Sang Nabi
Assalamualaikum sahabat muslim..
segala puji bagi Allah SWT. yang telah mengutus
Nabi Nabi Muhammad SAW. untuk mengemban amanah rohmatan lil alamin sebagai
rahmat bagi alam semesta. Gema sholawat serta salam semoga semoga senantiasa
tercurahkan kepada junjungan kita , Baginda Nabi Muhammad SAW. serta segenap
keluarga dan sahabatnya. Rosul yang telah mengentaskan manusia dari
keterhanyutan tak menentu dalam pencarian Tuhan.
Sebagai seorang muslim rasanya tidak mungkin
untuk mengukur seberapa besar jasa Baginda Nabi Muhammad SAW. sebagai insan
penuntun umat manusia. Yang dapat kita lakukan adalah menanamkan dan
memantapkan kecintaan kita kepada beliau tanpa meragukannya sedikitpun.
Namun hal tersebut akan terasa sulit untuk
direalisasikan tanpa menilik dan mencermati sejarah perjuangan Nabi Muhammad
SAW. Oleh karna itu mari kita tilik kembali sejarah kehidupan Beliau agar
tertanam dalam diri kita sebuah kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW.
Monggo..
Kelahiran dan Persusuan Nabi Saw.
Sembilan bulan sudah Aminah mengandung buah
kasih sayangnya dengan Abdullah. Selama itu pula menantu Abdul Muthollib ini
melewati hari-hari indah bersama putranya yang masih berada dalam kandungan.
Memang si jabang bayi masih bersembunyi didalam rahimnya, namun Aminah telah
benar-benar jatuh cinta padanya. Beliau telah siap sedia untuk menyerahkan
hidup dan matinya untuk melindungi putranya.
Kini pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun
Gajah, Allah SWT. menyempurnakan kebahagiaan istri mendiang Abdullah ini
(beliau wafat ketika Aminah sedang mengandung 2 bulan). Dengan dibantu
as-Syifa, Aminah melahirkan putra pertamanya.
Seperti biasa pada bulan-bulan tertentu
beberapa orang dari suku Sa'd akan datang ke Mekah untuk menawarkan jasanya
(mengasuh/menyusui bayi yang baru lahir) yang sudah menjadi adat dan kebiasaan
penduduk Mekah. Ditahun kelahiran Nabi, perkampungan Bani Sa'd tengah dilanda
kemarau panjang. Kekeringan telah menjemput kehidupan penduduk terpencil itu
hingga banyak hewan ternak yang kurus dan tak mampu menghasilkan susu. Keadaan
ini sungguh menyulitkan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,
terutama keluarga miskin seperti Halimah as-Sa'diah.
Tahun itu Halimah ikut rombongan pergi ke Mekah
untuk menawarkan jasa mengasuh anak. Dengan membawa perbekalan seadanya ia
berangkat dengan ditemani suami dan anaknya yang masih terlalu kecil untuk
ditinggal sendirian. Sepanjang perjalanan anaknya selalu menangis. Halimah dan
suaminya tak bisa berbuat banyak. Air susunya telah mengering sementara unta
tua yang dibawanya juga tidak bisa menghasilkan susu untuk diperah.
Tidak berselang lama, semua telah mendapatkan
bayi-bayi untuk diasuhnya. Kini Halimah yang masih belum juga mendapatkan bayi
untuk diasuhnya. Pada awalnya ia juga telah ditawari untuk mengasuh cucu Abdul
Muthollib, namun ia pun menolak seperti yang lain karna keluarga beliau
telah mengalami kemunduran besar dalam perdagangan, dan cucunya itu terlahir
sebagai anak yatim yang berarti tidak akan mendapatkan balasan jasa dari orang
tuanya di kemudian hari.
Setelah beberapa saat berada di mekah,
rombongan itu memutuskan untuk segera kembali ke perkampungan mereka. Mendengar
hal itu halimah berpikir ulang, bagaimanapun juga ia tidak akan mungkin kembali
dengan tangan hampa. Mekah tinggal menyisakan sikecil yatim yang tak dapat
pengasuh dan seorang termiskin yang tak mendapatkan titipan anak untuk diasuh.
Akhirnya Halimah kembali mengetuk pintu rumah Aminah, ketukan yang telah
ditunggu-tunggu Aminah akhirnya datang juga. Dan sesuai adat yang berlaku,
putra Aminah akan diasuh selama 2 tahun di perkampungan Bani Sa'd.
Ketika sampai kampung halamannya yang gersang,
Halimah dikejutkan oleh kambing-kambingnya yang terlihat gemuk-gemuk. Ambing
susu kambing-kambingnya juga nampak berisi, penuh dengan susu. Kampung yang ia
tinggali adalah kampung yang paling gersang dibanding tempat-tempat yang lain,
tapi kenapa semua itu bisa terjadi. Halimah hanya bisa menatap bayi mungil yang
iya bawa jauh-jauh dari mekah. Hatinya kini kian mantap untuk merawat anak itu.
Dia yakin semua keanehan yang dijumpainya pasti tak lepas dari putra Aminah.
Dua tahun kemidian, dengan berat hati Halimah
sekeluarga kembali ke Mekah untuk mengantarkan Nabi Muhammad SAW. kepangkuan
ibunya. apaerkembangan Nabi Muhammad SAW yang sangat pesat membuatnya jatuh
hati untuk mengasuhnya. Disamping itu Halimah sadar betul bahwa kehadiran Nabi
Muhammad SAW benar-benar membawa berkah tak terkira dalam keluarganya. Maka
ketika mereka tiba di hadapan Aminah, Halimah mengutarakan keinginannya itu.
"Relakanlah anak ini bersamaku hingga ia
tumbuh lebih besar. Aku khawatir dia akan terkena wabah penyakit yang menjalar
di Mekah."
Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya
Aminah berkenan untuk melepas kembali putranya. Apalagi wabah yang saat itu
menjalar di Mekah belum juga reda, jadi ada baiknya membiarkan Nabi Muhammad
SAW. untuk hidup di alam bebas dengan udara yang lebih segar. Sekali lagi
Halimah mendapatkan kesempatan mengasuh putra Aminah dan seisi keluarganya
menyambutnya gembira.
NB:
Sebelum Nabi Muhammad SAW. mendapatkan susuan
dari Halimah beliau telah mendapatkan susuan dari Tsu'aibah, seorang budak
perempuan milik Abu Lahab. Paman Nabi yang bernama Hamzah dan Abu Salamah bin
'Abdi al-As'ad juga pernah menyusu pada budak Abu Lahab ini. sementara itu,
Tsuaibah sendiri juga mempunyai seorang anak yang bernama Masruh.
Dengan begitu, Nabi Muhammad SAW. mempunyai 3
saudara sesusuan dari budak ini, yaitu:
- Hamzah
- Abu Salamah bin 'Abdi al-As,ad
- Masruh
Nah, sahabat.. demikian kisah dibalik kelahiran
dan masa susuan Nabi Muhammad SAW. semoga bermanfaat yah.. oh ya, tulisan ini tentu
bukan dari pengetahuan saya sendiri, hampir seluruhnya saya kutip dari buku
terpercaya, SIROH NABAWIAH "LENTERA KEGELAPAN" yang disusun oleh Team sejarah 2010 (ATSAR) Madrasah Hidayatul
Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri.
Wassalaamualaikum..
Komentar
Posting Komentar