Pembelahan Dada
“sebaik-baik
manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah
SWT., karna telah memberi saya kesempatan untuk terus berbagi, agar pembaca
lebih mengenal lagi pendidik sejati manusia.
Saya harap pembaca akan terus membaca
tulisan-tulisan seperti ini, Dimana saja asalkan dari sumber yang terpercaya
yaa. Ini adalah tulisan yang kedua, dari sumber buku “lentera kegelapan” (LirboyoPress).
Yang masih penasaran tentang kehidupan Baginda
Nabi Muhammad SAW., tapi belum memiliki bukunya silahkan subscrabe saja halaman
ini, semoga bermanfaat yaa ..
Pembelahan
Dada
Nabi Muhammad Saw. kembali menghirup udara
padang pasir yang bebas, sebebas penghuninya. Kembali menyaksikan
keramahtamahan penduduk pedesaan. Menyimak keluesan bahasa yang mereka ucapkan
dalam setiap pembicaran. Dan dari perkampungan Bani Sa’d inilah beliau mulai
belajar menggembalakan kambing yang membutuhkan kesabaran.
Usianya kini telah memasuki 5 tahun dan
tubuhnya nampak lebih kekar dari anak-anak sebayanya. Kedua mata beliau tampak
selalu memakai celak meskipun sebenarnya tak pernah memakainya. Rambutnya
senantiasa tertata rapi seolah selalu mengenakan minyak rambut. Badannya sehat
tak mempunyai satu kekurangan sedikitpun. Semua itu sangat mengesankan Halimah
sekeluarga, lebih-lebih bila mengingat betapa anak yatim ini telah mendatangkan
keberkahan tersendiri bagi seisi keluarga. Mereka sangat menyayangi putra kaum
Quraisy ini.
Siang itu seperti biasanya Nabi Muhammad Saw.
Pergi bersama saudara angkatnya untuk menggembalakan kambing tak jauh dari
rumah. Baru beberapa saat mereka membawa kambingnya, tiba-tiba salah satu anak
Halimah berlari pulang kerumah dengan begitu ketakutan. Dengan nafas
tersengal-sengal dan wajah menyiaratkan rasa takut ia berkata kepada kedua
orang tuanya,
“Muhammad
telah dibunuh!”
Anak itu berkata panik. Halimah dan Abu Kabsyah suaminya,
terperanjat. Seketika itu pula mereka berlari menuju ke tempat Nabi Muhammad
Saw. Berada.
Ketika saudara angkatnya lari kerumah untuk
melaporkan yang dilihatnya, dua orang laki-laki mengenakan pakaian serba putih
menelantangkan Nabi diatas batu. Mereka adalah Jibril dan Mikail, dengan
terampilnya membelah dada Nabi Muhammad Saw. Dan mengambil segumpal darah. Hati
Nabi lantas dibasuh dengan air Zam-zam yang telah mereka persiapkan dalam
sebuah bejana emas. Dalam waktu sekejap semua telah selesai dilakukan dengan
rapi sehingga ketika Halimah dan suaminya menemukan Nabi Muhammad Saw., keadan
telah kembali hening.
Anak itu telah berdiri mematung dengan wajah pias bagai orang
hendak pingsan. Halimah dan suaminya buru-buru mendekap Nabi Muhammad Saw.
“anakku,
apa yang telah terjadi padamu?” Tanya suami Halimah.
“Dua orang laki-laki
berpakaian serba putih telah mendatangiku.kemudian aku ditelentangkan diatas
batu dan mereka membelah dadaku. Diambilah sesuatu dari dadaku dan aku tidak
tau apa itu.” Jawab Nabi dengan polos.
Suami istri itu segera mencari orang yang
diceritakan oleh anak angkatnya namun mereka tidak menemukan siapapun disana.
Karena begitu ketakutan, Nabi Muhammad Saw. Segera dibopong oleh Abu Kabsyah.
Dibawanya kerumah untuk memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa. Meskipun Nabi
Muhammad Saw. Nampak biasa-biasa saja, namun Halimah dan suaminya tetap
khawatir. Mereka takut anak angkatnya telah dinganggu jin atau terekena
guna-guna lainnya. Abu Kabsyah akhirnya berkata lirih,
“demi Allah. Halimah
aku rasa anak ini telah diganggu sesuatu. Sebaiknya kita segera mengembalikan
sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”
Halimah sepakat dengan apa yang diutarakan
suaminya. Mereka segera mempersiapkan perbekalan untuk melakukan perjalanan ke
Mekah. Pada mulanya, orang tua angkat Nabi ini sempat tutup mulut, namun Aminah
bergeming, beliau mendesak kedua orang tua itu agar mau menceritakan apa yang
sebenarnya telah terjadi. Kedatangan mereka yang begitu mendadak jelas
mengindikasikan adanya sesuatu yang tak beres. Akhirnya Halimah dan suaminya
menceritakan semuanya yang hendak mereka rahasiakan.
Ibunda Aminah mendengar penuturan mereka dengan
penuh perhatian, namun beliau sedikitpun tidak mengkhawatirkan keadaan
putranya. Setelah kedua orang itu bercerita, ibunda Nabi berkata:
“jadi
kalian berdua mengkhawatirkan putraku? Demi Allah, jangan! Sesungguhnya putra
ku ini telah mengalami suatu kejadian yang belum aku ceritakan pada kalian.
Pertama, ketika mengandungnya aku tidak merasakan kalau aku hamil. Kemudian aku
melihat ada secercah cahaya menyamai bintang keluar dari tubuhku yang menerangi
saat aku melahirkannya, posisinya tidak menyamai dengan bayi-bayi yang lain,
dia meletakkan tangannya ditanah serta menengadahkan kepalanya ke langit. Maka
bawalah ia kembali bersama kalian.”
Meskipun Halimah telah tenang, ia tetap tidak
mau membawa lagi Nabi Muhammad Saw.. Suami istri Bani Sa’d itu tidak berani
menanggung resiko jika nanti terjadi hal-hal yang lebih mengerikan dan
membahayakan Nabi Muhammad Saw.. Akhirnya, hari itu Nabi Muhammad Saw. resmi
dilepas oleh Halimah dan hidup bahagia dibawah asuhan ibunya.
Komentar
Posting Komentar